Pura Tanah Lot, Sejarah & Harga Tiket Masuk 2021

Pura Tanah Lot, Sejarah & Harga Tiket Masuk 2021

Pura Tanah Lot berada di pesisir pedesaan Beraban, pinggiran Kediri, dan Kabupaten Tabanan. Letaknya 30 kilometer sebelah barat Denpasar dan sekitar 11 kilometer sebelah selatan kota Tabanan. Pura ini terkenal dengan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler di antara tujuan wisata di Bali.

Arti Kata Pura Tanah Lot

Tanah Lot terdiri dari dua kata: kata Tanah diartikan memiliki rupa seperti karang gili atau pulau. Kata Lot atau Lod memiliki arti laut. Jadi Tanah Lot artinya pulau kecil yang mengapung di atas laut.

Tempat tersebut dinamakan Tanah Lot sebagai tempat yang dipandang suci yang dibuktikan dengan adanya menhir pada masa megalitik.

Berdasarkan kondisi lingkungan, bangunan Pura Tanah Lot dibangun di atas dataran karang yang tidak beraturan dengan sudut yang hanya terdiri dari satu halaman sederhana, seperti Jeroan.

Pura Tanah Lot berbeda dengan pura lainnya di pulau Bali dan Tanah Lot tidak memiliki pelataran karena dibangun di atas lanskap karang yang memiliki sudut tidak beraturan.

Terdapat tempat suci berjenjang di dalam kompleks pura yang sebenarnya mengikuti elemen dasar desain Bali di mana jumlah tingkatan yang dibangun merupakan simbol dari kompleksitas keimanan.

Terdapat formasi lain di wilayah tersebut yang menunjukkan bahwa situs tersebut tidak hanya memiliki makna religius yang besar, tetapi juga nilai arkeologis.

Tempat Wisata Di Bali Pura Tanah Lot

Sejarah Pura Tanah Lot

Sejarah Pura Tanah Lot Bali erat kaitannya dengan perjalanan suci dari Blambangan (pulau Jawa) ke pulau Bali seorang biksu suci bernama Dang Hyang Nirartha untuk menyebarkan ajaran agama Hindu, orang-orang juga memanggilnya Dang Hyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Pedanda . Penguasa pulau Bali saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong sekitar abad ke-16.

Pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel, Bali. Kemudian dia melakukan perjalanan suci ( Dharmayatra ) dan berjalan dari barat ke daerah timur di sepanjang pantai selatan Pulau Bali.

Dalam perjalanannya, akhirnya dia menemukan pantai di daerah Tabanan (sekarang Kabupaten Tabanan), tidak jauh dari desa Baraban.

Ia pun melihat sebuah batu berupa pulau kecil di tengah laut. Dia bermeditasi di sini dan merasakan getaran kesucian. Di atas batu tersebut ia menyarankan agar Pura Tanah Lot didirikan sebuah bangunan suci untuk menyembah Tuhan.

Dalam Dwijendra Tattwa dijelaskan bahwa pada suatu ketika Dang Hyang Nirartha kembali ke Pura Rambut Siwi dalam perjalanannya keliling pulau Bali, dimana pertama kali ketika dia baru tiba di Bali dari Blambangan (pulau Jawa) pada Çaka 1411 atau 1489 Masehi, dia berhenti di tempat ini.

Setelah berada di Pura Rambut Siwi beberapa saat, barulah ia melanjutkan perjalanannya menuju ke arah Timur (Purwa). Sebelum berangkat, DangHyang Niratha melakukan sembahyang “Surya Cewana” bersama orang-orang yang ada di sana.

Setelah memercikkan air suci (tirtha) ke orang-orang yang melakukan ibadah, kemudian dia berjalan keluar candi berjalan ke arah Timur. Perjalanan menelusuri pesisir selatan pulau ditemani oleh beberapa pengikutnya.

Dalam perjalanannya ini Dang Hyang Nirartha sangat menikmati dan terkesan dengan keindahan pantai selatan pulau Bali dengan keindahan alam yang sangat mengasyikkan.

Ia membayangkan betapa kebesaran Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya yang dapat memberikan kehidupan bagi umat manusia.

Dalam hatinya berbisik bahwa kewajiban setiap makhluk di dunia ini, khususnya manusia untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala yang telah ia ciptakan dengan senang hati.

Setelah lama berjalan dan akhirnya sampai dan singgah di sebuah pantai, pantainya terdiri dari bebatuan dan ada juga sendang, bebatuan itu disebut Gili Beo , “Gili” artinya pulau kecil dan “Beo” artinya burung, jadi Gili Beo artinya kecil. pulau bebatuan yang menyerupai burung.

Di kawasan ini pernah dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti yang merupakan penguasa di desa Beraban, kemudian disitulah Dang Hyang Nirartha singgah dan beristirahat, setelah beberapa saat istirahat kemudian datanglah para nelayan yang ingin bertemu dengannya dan membawa berbagai sesaji. untuk dia.

Kemudian setelah sore, para nelayan memintanya untuk bermalam di rumah mereka. Namun, semua petisi itu ditolaknya dan ia lebih memilih bermalam di Gili Beo karena dari sana ia bisa menikmati udara segar, pemandangan indah dan melepas pemandangan dengan leluasa ke segala penjuru.

Pada malam hari sebelum istirahat beliau memberikan ajaran agama, akhlak, dan ajaran kebajikan lainnya kepada masyarakat yang datang kesana, namun kehadiran Dang Hyang Nirartha tidak disukai oleh Bendesa Beraban Sakti karena ajarannya tidak sesuai dengan Ajaran yang disebarkan oleh Dang Hyang Nirartha, dan hal ini menyebabkan Bendesa Beraban Sakti menjadi marah dan mengajak pengikutnya untuk mengusir Dang Hyang Nirartha dari wilayah tersebut.

Untuk melindungi diri dari agresi Bendesa Beraban Sakti, DangHyang Nirartha memindahkan Gili Beo ke laut dan menciptakan ular dari syalnya untuk selalu menjaga Gili Beo aman dari serangan jahat. Dan setelah itu Gili Beo berganti nama menjadi Tanah Lot (daratan di laut).

Setelah melihat keajaiban Dang Hyang Nirartha, Bendesa Beraban Sakti akhirnya mengalah dan menjadi pengikut-Nya yang setia mengajarkan agama Hindu kepada penduduk, dan atas jasanya Dang Hyang Nirartha memberikan keris kepada Bendesa Beraban Sakti sebelum melanjutkan perjalanannya (The Kris or Keris adalah keris khas asimetris dari Indonesia. Baik sebagai senjata maupun benda spiritual, keris sering dianggap memiliki kekuatan magis. Keris yang paling awal diketahui dibuat sekitar tahun 1360 M dan kemungkinan besar tersebar dari seluruh pulau di Asia Tenggara).

Keris yang diberikan kepada Bendesa Beraban Sakti disebut Jaramenara atau Kris Ki Baru Gajah , hingga saat ini Keris Ki Baru Gajah masih ada dan tersimpan serta disucikan di Puri Kediri , Tabanan.

Pada saat DangHyang Nirartha berpesan kepada masyarakat untuk membangun sebuah Pura (parahyangan) di Tanah Lot karena menurut getaran batin sucinya dan tuntunan supranatural bahwa tempat ini adalah tempat yang baik untuk beribadah kepada Tuhan, dari tempat ini maka orang dapat memuja kebesaran. Tuhan dalam manifestasi sebagai Dewa laut untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan dunia.

Mitos Ular Suci

Ular Di Tanah Lot

Salah satu ciri khas Tanah Lot adalah di seberang jalan pura terdapat sejumlah gua yang terletak di pesisir pantai yang beberapa ular lautnya berwarna hitam dan putih. Tidak terdapat kulit melintang dibagian perutnya, hanya terdapat kulit yang kecil, namun ular air laut ini sangat berbahaya, namun kasus gigitan ular sangat jarang terjadi karena ular air laut pada umumnya sangat pasif. Ular ini sangat jinak dan tidak boleh diintimidasi karena dianggap sebagai prekursor penjaga.

Lalu ada juga kepercayaan terhadap Pura Tanah Lot, di mana juga terdapat air suci, tepat di bawah Pura. Dipercaya bahwa air suci dapat memberikan gizi bagi siapa saja yang meminumnya.

Fasilitas

Sebagai salah satu destinasi wisata terkenal di Bali, Tanah Lot telah dikembangkan secara profesional menjadi destinasi wisata berstandar internasional dengan menyediakan fasilitas umum dan pelayanan keamanan yang lengkap termasuk life guard. Fasilitas lengkap yang disediakan antara lain toilet, area parkir, bale untuk istirahat, paging system, kamera keamanan, toko suvenir, restoran, hotel, warung makan dan minum.