Budaya Bali & 10 Macam Tradisi Unik Masing Masing Daerah

Budaya Bali & 10 Macam Tradisi Unik Masing Masing Daerah

Bali memang menjadi magnet pariwisata, selain masyarakatnya yang sangat sadar akan wisata sehingga mereka bisa mengembangkan ragam wisatanya, alam dan budaya Bali yang eksotik juga sangat mendukung.

Itulah mengapa Bali seakan-akan menjadi toko serba ada destinasi wisata, Selain itu seni budaya Bali berkesinambungan, sekaligus menjadi pilar dan daya tarik utama pariwisata

Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang ada di Indonesia yang menyediakan beberapa tempat wisata yang sangat unik dan indah

Tentunya bagi kalian yang sudah pernah berkunjung ke Pulau Bali ini pasti mengetahui apa saja tempat-tempat wisata yang ada di Pulau Bali tersebut.

Pulau Bali ini bukan hanya menawarkan keindahan-keindahan tempat wisata saja, tetapi pulau bali ini menawarkan budaya Bali yang sangat banyak sekali kategori nya. Diantara kalian pasti ada aja dong yang belum mengetahui tentang apa saja sih isi dari Kebudayaan Bali ini?

Maka pada kali ini Gotravela akan membahas tentang budaya bali dan tradisi unik di bali

Budaya Bali & Tradisi Unik Di Bali

1. Rumah Adat Bali

Budaya Bali , Rumah Adat Bali

Salah satu dari contoh rumah adat bali disebut dengan Gapura Candi Bentar. Gapura Candi Bentar ini adalah pintu masuk, Gapura Candi Bentar dibuat dari batu yang berwarna merah dan diukir oleh batu cadas.

Rumah adat Bali dibangun dengan aturan Asta Kosala Kosali. Bisa diibaratkan dengan Feng shui dalah budaya Tionghua. Untuk membangunnya, orang Bali akan mementingkan ke arah mana bangunan menghadap.

Hal yang yang dianggap keramat atau suci akan dihadapkan ke arah gunung. Karena gunung adalah benda keramat. Arah ini disebut dengan istilah Kaja. Sedangkan untuk hal yang tidak dianggap suci akan dihadapkan ke arah laut atau sering disebut Kelod.

2. Pakaian Adat Bali

Pakaian Adat Bali

Pakaian tradisional adat Bali, busana yang ditampilkan bermacam-macam seperti busana adat untuk ke pura atau persembahyangan, busana untuk upacara pernikahan dan busana adat untuk kegiatan-kegiatan adat di masyarakat seperti untuk menghadiri acara pernikahan, melayat kematian, tiga bulanan ataupun pertemuan adat di balai banjar, masing- masing memiliki ciri khas tersendiri .

Dari pakaian adat Bali yang digunakan oleh seseorang, maka sekilas masyarakat umum bisa mengetahui orang tersebut akan mengikuti kegiatan ataupun keperluan apa. Pengaruh modern sekarang ini, banyak mempengaruhi bentuk ataupun penggunaan pakaian adat Bali tersebut.

3. Tarian Bali

Tarian Bali

Seperti namanya tari Bali, tentunya tarian-tarian khas yang berasal dari Bali, baik itu merupakan warisan hasil karya cipta leluhur maupun hasil kreasi baru penerusnya dan menciptakan masa kini. Tari tradisional Bali bisa ditarikan mulai dari anak-anak sampai dewasa, laki-laki dan perempuan sesuai dengan jenis tarianya.

Tradisi Tari Di Bali adalah:

  • Barong, tarian raja para arwah.
  • Baris tarian perang.
  • Cendrawasih, mitologi burung surga.
  • Condong, tarian dasar, pengantar Legong.
  • Legong, tarian yang halus.
  • Kecak, tarian nyanyian monyet pada mitologi Ramayana.
  • Janger, sebuah tarian dengan gerakan bergoyang.
  • Pendet, tarian sederhana dilakukan sebelum membuat persembahan di sebuah pura.
  • Tari Topeng, Di Bali, topeng dianggap sakral, seperti topeng barong ket (singa), barong macan, (harimau), barong bangkal (babi hutan), barong lembu (banteng) dan barong landung (raksasa). Menarikan tari topeng dilakukan untuk memainkan kisah kehidupan nenek moyang, kisah Ramayana atau riwayat sejarah

Tradisi Unik Di Bali

Keyakinan mengenai tradisi yang dilakukan oleh warga di suatu tempat memang didasarkan dari keyakinan warga setempat, seperti keyakinan akan terjadi bencana ataupun musibah

jika sebuah ritual tidak dilakukan, atau karena berkaitan dengan keyakinan beragama untuk penghormatan pada leluhur ataupun kepada tuhan (sang pencipta).

1. Omed – Omedan Di Sesetan

Omed Omedan

Tradisi unik ini berupa ritual saling memeluk dan tarik menarik secara bergantian antara dua kelompok muda-mudi. Dan uniknya, meskipun tradisi ini secara turun temurun hanya dilakukan oleh warga Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar Bali, namun dikenal dunia.

Dalam bahasa Bali, omed- omedan ini memiliki makna tarik-menarik. Para peserta yang mengikuti omed-omedan harus berumur antara 17-30 tahun dan belum menikah. Prosesi omed-omedan diawali dengan memisahkan antara pemuda dan pemudi menjadi dua kelompok.

2. Makotek Di Desa Munggu

Nama makotek berasal dari suara kayu yang saling bertabrakan saat disatukan menjadi bentuk piramida kayu yang menyatu. Jadi asal nama Makotek timbul dari suara kayu-kayu yang bergabung dan menimbulkan bunyi tek.. tek.. tek.teek. Sebenarnya tradisi ini bernama grebek yang artinya saling dorong akan tetapi lebih dikenal sebagai Makotek .

Tradisi ini yang dilangsungkan warga desa Munggu kecamatan Mengwi Badung ini ,bertujuan memohon keselamatan kepada Hyang Widhi.agar desa terhindar dari wabah dan marabahaya. Dimana Makotek melibatkan  ratusan warga Desa Munggu untuk menggelar tradisi makotek ini.

3. Mekare – Kare ( Perang Pandan Di Tenganan Karang Asem )

Mekare Kare

Mekare – Kare dilaksanakan setiap bulan kelima atau sasih kalima dalam penanggalan Desa Adat Tenganan. Ritual perang pandan berlangsung kurang lebih selama dua hari berturut-turut. Upacara ritual ini dilakukan setiap satu tahun sekali. Mekare kare dilaksanakan mulai dari pukul 14.00 Wita hingga selesai.

Saat perang pandan atau mekare kare mulai berlangsung, mereka juga saling rangkul sambil memukulkan pandan berduri dan menggosokkan/ menggeretkan ke punggung lawan, untuk itu pula disebut upacara Mageret Pandan.

4. Tradisi Perang Ketupat Di Desa Kapal

Perang Ketupat

Salah satu tradisi yang sudah ada sejak tahun 1970-an di Desa Adat Kapal yang bernama Perang Ketupat. Perang ini nggak se-chaos perang dunia atau perang yang sampai menimbulkan banyak korban, tapi lebih ke ekspresi atau ungkapan rasa syukur terhadap Sang Maha Pencipta atas segala keberkahan yang dilimpahkan.

Sebelum tradisi ini dimulai, warga Desa Kapal akan melakukan persembahyangan bersama terlebih dahulu di pura setempat, yang dipimpin oleh seorang pemangku agama. Setelah selesai sembahyang, pemangku akan memercikan tirta atau air suci kepada para warga, dengan tujuan agar selama prosesi berlangsung tidak ada gangguan atau hambatan, sehingga dapat berjalan lanca

5. Tradisi Makepung Di Jembrana

Tradisi Makepung

Makepung berasal dari bahasa Bali yang artinya berkejar-kejaran. Dua pembalap masing-masing memacu dua ekor kerbau yang menarik sebuah cikar.

Kerbau-kerbau tersebut dihias sedemikian rupa dan menggunakan sebuah genta besar yang terkalung di lehernya. Pembalap menggunakan baju adat Bali, sarung poleng dan memakai ikat kepala bercorak khas Bali.

6. Tradisi Megoak – Goakan Di Buleleng

Tradisi Megiak - Goakan

Tradisi Magoak-goakan berasal dari Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Permainan ini diperkirakan sudah ada pada masa pemerintahan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti di Buleleng.

Konon kemunculan permainan tradisional ini dilatarbelakangi persoalan politik berkaitan dengan kekusaan raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti ke Blambangan Jawa Timur.

Tradisi Magoak-goakan yang dilaksanakan dengan penuh rasa kebersamaan oleh masyarakat Panji, karena tradisi ini sudah mendarah daging dapat dianggap sebagai segala aspek yang mempengaruhi segala kehidupan masyarakat Panji sendiri, yang terdapat dalam kehidupan beragama maupun dalam kehidupan sosial.

7. Tradisi Megibung Di Karang Asem

Tradisi Magibung Di Karang Asem

Salah satu sebuah tradisi unik di Bali yaitu Tradisi Megibung, tradisi ini merupakan sebuah tradisi makan bersama yang ada di Karangasem. Tradisi megibung merupakan tradisi dimana masyarakatnya dapat duduk bersama dan berkumpul sambil berbagi makanan.

Megibung ini digelar dalam sebuah upacara adat dan keagamaan di Karangasem, seperti upacara potong gigi, upacara pernikahan, otonan anak upacara Dewa Yadnya, upacara Bhuta Yadnya, otonan tiga bulanan anak, upacara Manusa Yadnya, upcara upacara Rsi Yadnya, hingga saat upacara Ngaben. Saat-saat acara gotong royong pun juga sering diadakan Megibung.

9. Mengarak Ogoh – Ogoh

Tradisi Mengarak Ogoh - Ogoh

Tradisi mengarak ogoh-ogoh pada saat menjelang hari raya Nyepi (pengrupukan) merupakan tradisi yang dianggap baru oleh masyarakat Bali, akan tetapi sesungguhnya tadisi mengarak ogoh-ogoh di Bali sudah ada sejak zaman dahulu.

Ogoh-ogoh adalah perwujudan Bhuta Kala atau roh jahat yang suka mengganggu manusia. Biasanya, Bhuta Kala disimbolkan sebagai raksasa dengan wajah dan tubuh menyeramkan. Oleh karena itu, ogoh-ogoh yang dibakar bermakna pemusnahan segala hal buruk dan kejahatan di dunia.

10. Upacara Ngaben Di Bali

Budaya Bali & Tradisi ngaben

Ngaben merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali, Indonesia. Upacara adat Ngaben merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang.

Dalam upacara ini, jenazah diletakkan dengan posisi seperti orang tidur. Keluarga yang ditinggalkan pun akan beranggapan bahwa orang yang meninggal tersebut sedang tertidur.

Dalam upacara ini, tidak ada air mata karena mereka menganggap bahwa jenazah hanya tidak ada untuk sementara waktu dan menjalani reinkarnasi atau akan men emukan peristirahatan terakhir di Moksha yaitu suatu keadaan dimana jiwa telah bebas dari reinkarnasi dan roda kematian. Upacara ngaben ini juga menjadi simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.

Nah itulah beberapa budaya bali beserta keunikanya, dan masih bayak lagi bali dengan keunikanya yang tidak bisa kami sebutkan

Translate »
error: